Akan Kembali

Teman-teman semuaaa!!

Semester ini adalah semester yang paling berat (sekaligus paling menyenangkan sih, untungnya) sepanjang sejarah per-ITB-an ku, HAHAHA. Banyak sekali cerita, banyak sekali yang ingin disampaikan, tapi apa daya–semua tenggat waktu yang ada terus menerus menghantuiku. 🤣

Aku membuat janji untuk menulis banyak hal di sini selepas perkuliahan semester 7 selesai, jadi tolong ditunggu ya! 🤗

Advertisements

Cerita KP di Gedung Ventura Lt. 7 — Ruang KP BME ITB 2015

HAII GUYSS!!

Jadi, setelah sekian lama tida update karena bingung mau nulis apa, Hugi a.k.a Ujay dan aku (Jeje) bikin vlog nihhh!

Silakan ditonton yaaa, mohon maaf atas kualitas video yang masih kurang baik. Sumber daya terbatas nich hehe,,,, 🤣

ENJOY!

via Cerita KP di Gedung Ventura Lt. 7 — Ruang KP BME ITB 2015

E-KTP Ketiga

Satu hal yang lupa ku ceritakan dari perjalanan ke Cirebon kemarin adalah………………………jatuhnya KTP dari kantong jaketku. 😑

Ini adalah kedua kalinya aku kehilangan satu-satunya penunjuk identitas resmiku (karena belum punya SIM dan Paspor). Sebelumnya, KTP-ku pernah hilang bersama dompet yang dicopet di KRL 2 tahun yang lalu. Walau begitu, ini adalah pertama kalinya aku mengurus pembuatan KTP-ku sendiri.

Empat tahun yang lalu E-KTP pertamaku tiba-tiba sudah ada di Kantor Kecamatan ketika aku baru mau mendaftarkan pembuatan KTP di umur 17 tahun. Kenapa tiba-tiba? Sewaktu kelas 11, di sekolahku ada pengambilan data E-KTP untuk para siswa dan siswi. Dulunya aku kira E-KTP yang akan diproses hanya siswa berdomisili DKI Jakarta, mengingat sekolahku di Jakarta Barat dan aku adalah penduduk Tangerang Selatan. Ternyata, sewaktu memberi dokumen di Kantor Kecamatan, namaku sudah terpampang di papan pengumumannya sebagai orang-orang yang belum mengambil KTP yang sudah tercetak waktu itu. Kaget dong, niatnya mau buat kok malah udah jadi duluan. 🤣

Pencetakan ulang E-KTP keduaku diurus oleh Ibuku, karena saat itu aku sudah harus kembali lagi ke Bandung. Aku hanya perlu menunggu kiriman Pak Pos yang berisi E-KTP yang sudah tercetak kembali.

Untuk pengurusan E-KTP kali ini, aku mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan sendirian. Karena ini pertama kalinya, aku menelusuri beberapa sumber di internet tentang kepengurusan KTP yang hilang. Kebanyakan dari sumber-sumber tersebut menyebutkan Fotokopi KK, Surat Pengantar dari RT/RW, dan Surat Kehilangan dari Kepolisian sebagai dokumen yang harus dipersiapkan terlebih dahulu sebelum ke Kantor Kelurahan; lalu ke Kantor Kecamatan. Hampir semua sumber juga mengatakan bahwa proses pengurusan E-KTP hilang ini memakan waktu yang sangat lama. Bahkan ada yang bilang lebih dari 60 hari. 🤔

Sejujurnya ada salah satu sumber yang mengatakan bahwa surat rekomendasi RT/RW sudah tidak diperlukan untuk pengurusan E-KTP yang hilang. Tapi apa salahnya mempersiapkan segala kasus terburuk, kan?

Aku izin untuk bolos magang hari ini. Pagi hari aku mengambil Surat Pengantar di rumah Pak RT, lalu ke 4 Kantor Polisi untuk meminta Surat Kehilangan (4 kantor aku datangi karena 3 lainnya bermasalah), lalu ke Kantor Kelurahan. Tentunya dengan membawa beberapa Fotokopi KK.

Di Kantor Kelurahan, tidak ada yang dilakukan di sana. Yup, t i d a k  a d a. Seorang bapak-bapak mengarahkan untuk langsung ke Kantor Kecamatan atau daftar di website Disdukcapil Tangerang Selatan. Karena website yang disebutkan tidak bisa dibuka, aku langsung menancapkan gas, pergi ke Kantor Kecamatan.

Di Kantor Kecamatan aku diberi Formulir Permohonan KTP yang nantinya akan ku lengkapi dan ditandatangani oleh petugas di sana. Kemudian. aku diarahkan untuk langsung ke Kantor Disdukcapil sebelum jam 12. Awalnya aku kira karena jam 12 adalah jam istirahat, ternyata alasannya karena pengambilan kartu antrian di Kantor Disdukcapil hanya dilayani sampai jam 12.

img_20180709_122426-1452966411.jpg
Jadwal Pelayanan Disdukcapil Tangerang Selatan

Sampai di Kantor Disdukcapil, aku ada di antrian F082–sementara antrian baru berjalan hingga F035. Kurang lebih 4 jam habis untuk mengantri, karena antrian pencetakan E-KTP yang hilang disatukan dengan antrian pembuatan E-KTP baru. Tapiiiii, yang perlu digarisbawahi, pencetakan kartu E-KTP barunya nggak sampe 1 menit lho guys! Dan ternyata, dokumen yang diperlukan untuk mengurus E-KTP yang hilang hanyalah Fotokopi KK dan Surat Kehilangan dari Kantor Polisi, serta Formulir Permohonan yang didapatkan dari Kantor Kecamatan.

Kalau ditotal tanpa memperhitungkan waktu mengantri, pengurusan E-KTP hilang ini hanya memakan waktu kurang dari 2 jam. Sesuatu yang cukup di luar ekspektasi, karena ternyata sistem administrasi di negara kita sudah tidak seruwet beberapa tahun yang lalu.

Selain E-KTP, masih banyak hal-hal yang bisa diurus di Kantor Disdukcapil. Aku sempat mengabadikan sebuah infografis di sana tentang  dokumen yang perlu disiapkan sebelum mengurus beberapa proses administrasi kependudukan.

img_20180709_123211966496680.jpg
Format SMS Informasi Persyaratan Dokumen
img_20180709_1959592075326310.jpg
SMS yang diterima

Okaiii, sekian post-ku kali ini. Tumben ya aku bikin tulisan yang berfaedah. 🙄

Semoga banyak yang terbantu oleh post ini! Hehe 😜

Jalan-jalan ke Cirebon

Sesungguhnya judulnya agak salah sih.

Hari Sabtu kemarin aku dan beberapa anak-anak Aksan yang KP di Jakarta ke Cirebon bareng. Tujuannya?

Perjalanan dilakukan dalam rangka meramaikan nikahannya Kak Luqman, mantan ketua Aksan tahun lalu. KEREN BANGET KAK LUQMAAAN, ketua Aksan pertama yang sudah berijabsah nih. :)))

IMG_20180707_122448.jpg
Bersama pasukan dari Jakarta, muka kucel karena kepanasan dan kelelahan

Nah, kemarin itu makanan di nikahannya Kak Luqman tuh enak-enak bangeuuuud! Salah satu yang ingin aku sorot di tulisan kali ini adalah………………………………..MIE KOCLOK!!!!!!!

536404_620
Mie koclok, source gambar: https://sport.tempo.co/read/801442/mie-koclok-mie-kuah-santan-khas-cirebon

Selama ini aku belum pernah mengetahui sama sekali tentang makanan dengan kuah bertekstur creamy nan lezat ini. Jadi, mie koclok ini isinya mie kuning ditambah toge, telur rebus, dan ayam yang disiram sama kuah kental berwarna putih. Berdasarkan hasil pencarian di Google, kuahnya dibuat dari kombinasi antara kaldu ayam, santan, dan tepung maizena. Aku suka banget sama kuahnya yang bisa dibilang agak mirip bubur ini. Bisa juga dibilang ini adalah carbonara versi nusantara, haha. Pokoknya di Bandung harus bisa makan ini lagiiiii! 😭

Selain ke nikahannya Kak Luqman, aku dan pasukan semobil serta pasukan Aksan dari Bandung berkunjung juga ke Keraton Ka…Ke…. aduh apa ya namanya…………

KERATON KASEPUHAN! (((hasil Googling)))

………dan tentunya, mencicipi makanan setempat. Sayangnya, karena waktu yang sedikit, cuma sempet mampir ke satu tempat yaitu…….Empal Gentong Krucuk 🍲

empal-gentong-krucuk-cirebon_medium
Empal gentong Krucuk, source gambar: https://ksmtour.com/wisata-kuliner/kuliner-cirebon/empal-gentong-krucuk-khas-cirebon-kuliner-yang-wajib-dicoba.html

FYI LAGI! Aku juga baru tau kalau empal gentong itu ternyata daging dengan kuah yang mirip gulai dan soto betawi gitu. SELAMA INI AKU KIRA EMPAL GENTONG ITU DAGING GORENGGGG HAHAHA. Mengapa?! Karena aku baru tau istilah empal gentong di Kambing Bakar Kairo, makanya aku merelasikan makna makanannya mirip-mirip sama daging+pembakaran.

Kemarin aku nyoba empal gentong dagingnya dan tahu gejrot serta sate kambingnya. Aku menyesal tidak membeli empal gentong campur, yang merupakan campuran daging dan jeroan, karena awalnya ku kira ada atinya. Ternyata malah enakan yang campuurrr, karena nggak ada atinya dan lebih menarik. 😢 Kalau menurutku, tahu gejrot di sana juga lebih enak dari kebanyakan tahu gejrot yang ada di Bandung. Kuahnya lebih berasa, sisanya sih sama aja haha. Sate kambingnya lembuuuuut, enak banget dimakan, sayangnya rasanya kurang gress menurutku karena efek bumbu kacangnya yang tida ena ((iya, sate kambingnya pake bumbu kacang wkwk)). Tapi kalau dimakan polosan, enak kok guyyyss! Aku malah ngide makannya pake kuah tahu gejrot, HAHA.

Perjalanan ini adalah jalan-jalan bareng temen ke luar kota pertamaku. Aku udah pernah sih ke Lampung dan Pasuruan, tapi kan itu buat lomba jadi gausah diitung lah ya hehe. Mencoba berbagai makanan baru membuatku ingin memasukkan wisata kuliner se-Indonesia sebagai bucket list-ku. Bisa sekalian dibuat seri perjalanan juga kan, mungkin namanya bakal jadi “Makan-makan Men!” yang serupa dengan “Jalan-jalan Men” HAHAHA.

Yup, sekian ceritaku hari ini. Doakan aku dan Mz Bgz dilimpahkan banyak rejeki ya guys biar kami bisa cepat menyusul Ka Luqman. HEHEHEHE.

BYEEE!! 😛

Quarter-Life Crisis?

Beberapa dari teman-temanku sebagian besar sudah tau kalau aku nggak ingin mengambil jalur belajar lagi setelah lulus nanti. Aku lelah dengan kehidupan akademikku yang hasilnya tidak begitu memuaskan. Aku ingin cepat-cepat menghasilkan uang untuk menopang hidupku sendiri tanpa membebani orang lain.

Di awal mencicipi kehidupan korporat di tempat KP, aku semangat banget mengemban semua pekerjaan yang diberikan. Mengendarai motor sejauh 40 KM untuk PP dari kantor ke rumah tidak terasa berat, walaupun macetnya Jakarta cukup membuat kesal.

Setelah 2 minggu berlalu, aku ada di satu titik yang mempertanyakan apa tujuanku yang sebenarnya. Menghadapi realita dunia kerja yang ternyata tidak asyik-asyik amat, aku mulai terdemotivasi. Padahal, ini baru 2 minggu. Apa yang terjadi kalau aku bekerja untuk waktu yang lama? Ini bukanlah demotivasi sementara seperti biasanya kalau aku jenuh menghadapi dunia perkuliahan. Aku merasa aku akan terjebak jika aku mengambil jalur bekerja setelah lulus nanti. Entahlah, mungkin memang karena belum menemukan arahnya.

Waktu mencari tempat KP sebelumnya, aku sempat memutuskan akan langsung bekerja  setelah lulus nanti dan menelusuri beberapa jenis pekerjaan yang mau aku lakoni. Kalau nanti dapet jobdesc yang engineering? Tentu mau, aku suka ngoprek dan troubleshooting walau ga jago-jago banget. Kalau nanti dapet jobdesc manajerial? Ok ngga apa-apa, mungkin memang aku tidak se-capable itu untuk masuk dunia engineering; lagipula bekerja dengan orang lain tentu akan menyenangkan bukan?

Tapi, apakah aku akan senyaman itu di tempat kerja seperti saat menjadi mahasiswa?

Setelah melalui banyak renungan, aku menyadari sebenarnya keinginanku untuk cepat-cepat bekerja dilandasi oleh uang. Entahlah, aku merasa punya kewajiban besar untuk cepat-cepat menghasilkan uang sendiri. Walaupun sebagai perempuan yang tanggungan masa depannya tidak terlalu besar (kalian paham kan maksud stigma ini apa), aku ini anak pertama dari 4 bersaudara dan dukungan finansial di keluarga hanya datang dari Ibu. Rasanya tidak mungkin untuk mengabaikan keluargaku begitu saja, apalagi kalau masih menjadi beban setelah lulus nanti. Mungkin ini yang membatasi alam bawah sadarku untuk bermimpi tentang berkuliah lagi.

Selain itu, aku juga seringkali menyalahkan dunia akademik yang membuatku tidak ingin kembali belajar. Aku selalu menghujat hasil belajarku selama ini (baca: IPK), menganggap aku tidak mampu untuk belajar. Padahal, kalau diamati lebih lanjut, nilaiku di jurusan bisa dibilang cukup baik. Aku sadar bahwa aku bisa mencapai nilai yang baik jika aku menyukai subjeknya, sayangnya sains dasar bukanlah temanku.  Nilai kumulatifku tidak begitu memuaskan karena nilai-nilai buruk di mata kuliah sains dasar. Ternyata aku tidak sebodoh itu, seperti apa yang aku klaim pada diriku sendiri selama ini. Aku hanya kurang memaksakan diriku di waktu TPB dulu.

Aku ini tipe orang yang suka mencari banyak informasi di waktu senggang, bahkan sampai keasyikan dan lupa waktu. Di penghujung SMA, aku suka mencari banyak informasi mengenai dunia perkuliahan di website resmi dan blog-blog orang lain. Informasi yang aku baca mulai dari kampus dan kehidupan di dalamnya hingga seperti apa mata kuliah jurusan-jurusan yang aku pilih. Pada waktu itu aku juga mencari banyak informasi tentang beasiswa. Seharusnya di saat-saat ini aku juga melakukan hal-hal itu. I would love to, tapi percayalah aku tidak pernah sekalipun punya satu sesi di mana aku mencari informasi-informasi tentang perkuliahan S2. Iya, karena denial. Alasanku, aku menganggap aku nggak akan langsung S2 atau malah tidak akan S2 sama sekali seumur hidup. Jadi, aku terlalu takut bahkan hanya untuk mencari informasi.

Alhamdulillah aku menyadari semua ini sebelum lulus. Setidaknya, aku masih punya waktu untuk memperbaiki diri dan memutuskan pilihan kembali. Aku nggak bisa terus-terusan jadi Jeje versi sebelumnya yang hanya melakukan semuanya seadanya. Post ini aku buat untuk menjadi sebuah reminder bahwa hidup ini tidak bisa diputar kembali. Apa yang aku lakukan di saat ini akan menentukan seperti apa hidupku dan orang-orang di sekitarku di masa depan nanti.

Yuk berubah…