GrabWheels – Skuter Listrik Asyik

Haiiiiii, kembali lagi bersama review kendaraan roda dua darikuuu~ Setelah membahas BOSEH dan BukaBike, kini saatnya aku membahas GrabWheels. 😎

IMG_20191221_085446.jpg
GrabWheels @ Cafe Halaman

Kabar mengenai peluncuran GrabWheels di Bandung sudah beredar sejak 2 bulan lalu di ITB, tapi aku baru melihat peredarannya di jalan raya dalam kurun waktu 1 bulan belakangan ini. Aku sudah lama ingin mencoba, tapi malu kalau nyoba sendirian karena pasti akan kagok dan kalau kenapa-kenapa kan seram.. (ah, alasan) 😂 Akhirnya setelah menanti-nanti, kemarin aku bisa mencoba setelah lari bersama Icak dan Apik di Saraga, yaaaay! 🤗

Akses informasi mengenai lokasi pengambilan skuter ada di aplikasi Grab, tepatnya di menu eScooter. Kurang lebih tampilan dan menunya mirip seperti yang ada di menu BukaBike pada aplikasi Bukalapak. Tutorial penggunaan mulai dari lokasi, cara meminjam, cara mengendarai, dan petunjuk pengembalian ditampilkan lengkap di aplikasi. Untuk pengguna yang pertama kali mengakses menu peminjaman, akan ada informasi mengenai sisa daya baterai dan perkiraan jarak yang bisa ditempuh serta pop-up berisi beberapa slide tentang penggunaan skuter setelah melakukan scan QR code pada skuter.

Model skuter GrabWheels yang aku pakai adalah Segway SNSC 2.0. Kayanya sih model skuter yang disewakan berbeda-beda untuk tiap lokasi, karena di post ini model yang digunakan adalah Segway ES-2. Perbedaan kedua model tersebut yang paling utama adalah remnya, untuk model ES-2 ternyata ada pedal rem di roda belakang skuter, sedangkan di model SNSC 2.0 justru pijakan di roda belakang tidak boleh diinjak. 😂

IMG_20191221_092415.jpg
Iseng foto spesifikasi…

Cara mengendarai skuternya ku akui cukup unik, pengendalian kecepatan dilakukan menggunakan mekanisme thumb throttle yang baru bisa digunakan setelah skuter diluncurkan secara manual menggunakan kaki. Kayaknya thumb throttle memang mekanisme yang sudah umum digunakan di e-bike atau e-scooter lainnya, tapi karena aku belum pernah mencoba, ini adalah hal baru buatku. 😛

IMG_20191221_085457.jpg
Throttle Thumb di kanan, rem dan bel di kiri

Setelah mencoba mengendarai, aku tidak heran sih kalau banyak yang bilang GrabWheels ini berbahaya. Untuk yang tidak biasa, apalagi yang belum pernah mengendarai kendaraan bermotor sebelumnya, GrabWheels cukup berbahaya dikendarai karena pengguna harus menjaga kecepatan dan kestabilannya. Ditambah lagi, menurutku skuter listrik sejenis hanya cocok digunakan di jalan yang rata, contohnya trotoar Dago. Sayangnya trotoar di sini masih sangat minim dan umumnya putus nyambung, serta banyak lubang dan perbedaan ketinggian. Aku beberapa kali harus angkat-angkat skuternya waktu pindah dari jalan raya-trotoar-jalan raya karena kalau nggak diangkat bagian bawah skuternya bakal nyangkut, sedangkan kalau jalan di jalan raya (bukan di trotoar) akan diklakson banyak kendaraan lain [dan memang serem aja sih]. 🙁 Fyi, kecepatan standar GrabWheels ketika digunakan dengan throttle minimal adalah 6 km/jam dan kecepatan maksimal yang bisa dicapai adalah 17-18 km/jam. Sebenernya sih nggak begitu beda dengan kecepatan sepeda, tapi yaaaaaa somehow tetep serem aja gitu (tapi asyik sih).. 🤣

Dengan tarif 20.000 rupiah untuk penggunaan selama 30 menit, menurutku GrabWheels bukanlah sebuah solusi transportasi yang terbaik untuk digunakan di Bandung. Selain penggunaannya yang cukup merepotkan waktu berpindah antara jalan raya dan trotoar (dibanding sepeda), harganya juga tidak ramah di kantong jika dibandingkan dengan tarif peminjaman BOSEH yang hanya 1.000 rupiah saja untuk penggunaan selama 1 jam pertama. Kalau untuk penggunaan sesekali sih, oke bangetttt, karena menurutku memang asyiiiik dan patut dicoba. 😝

Hayuu ikut mencoba jugaak! 🤪

IMG-20191222-WA0006.jpg
☺️
Screenshot_2019-12-21-16-35-30-615_com.instagram.android.png
📸: Icak

BukaBike – Sepeda Gratis di Kampus

Di blog ini sebelumnya aku pernah bercerita soal Boseh, yang merupakan layanan penyewaan sepeda dari Pemkot Bandung. Bulan lalu, Bukalapak merilis layanan serupa di kawasan kampus ITB dengan layanan bernama BukaBike. Kalau kalian sering liat sepeda merah dengan keranjang hitam di kampus, itu dia sepedanya! 😀

IMG_20190115_124032.jpg
Spot/stasiun peminjaman BukaBike

Salah satu kelebihan utama BukaBike dibanding Boseh ialah biaya penyewaannya yang gratis alias tanpa biaya. Setiap peminjam dapat menggunakan sepedanya selama 30 menit, kalau habis ya tinggal diselesaikan peminjamannya dan lakukan proses peminjaman kembali. :p

Berbeda dengan Boseh yang melakukan penguncian tiap sepeda pada sistem docking yang tertanam di halte, BukaBike menerapkan sistem smart-lock di setiap sepeda yang didukung oleh tenaga surya dari sistem solar panel pada keranjang sepeda. 

IMG_20190115_124038.jpg
Solar panel di bagian keranjang dan sistem lock di bagian bawah jok sepeda

Sistem peminjaman BukaBike dilakukan dengan melakukan scanning barcode yang ada pada bagian belakang sepeda menggunakan aplikasi Bukalapak. Selain bisa melihat ketersediaan sepeda di tiap spot, pemesanan sepeda juga dapat dilakukan dengan batas waktu pengambilan sepeda 10 menit setelah proses booking dilakukan. Berikut ini adalah sekilas tutorial peminjaman sepeda pada aplikasi Bukalapak.

This slideshow requires JavaScript.

Overall, BukaBike sangat membantu mahasiswa/i ITB yang cukup tinggi mobilitasnya di dalam kampus. Selain gratis dan sistem peminjaman yang mudah, sepedanya juga enak digunakan. Dengan 7-speed gear, medan tanjakan-turunan yang ada di kampus bisa dilalui dengan nyaman.

IMG_20190115_124330.jpg
Bagus kan sepedanya?!

Jadi yang belum coba pake BukaBike tunggu apa lagi,  hayu sepedaan di kampus~

E-KTP Ketiga

Satu hal yang lupa ku ceritakan dari perjalanan ke Cirebon kemarin adalah………………………jatuhnya KTP dari kantong jaketku. 😑

Ini adalah kedua kalinya aku kehilangan satu-satunya penunjuk identitas resmiku (karena belum punya SIM dan Paspor). Sebelumnya, KTP-ku pernah hilang bersama dompet yang dicopet di KRL 2 tahun yang lalu. Walau begitu, ini adalah pertama kalinya aku mengurus pembuatan KTP-ku sendiri.

Empat tahun yang lalu E-KTP pertamaku tiba-tiba sudah ada di Kantor Kecamatan ketika aku baru mau mendaftarkan pembuatan KTP di umur 17 tahun. Kenapa tiba-tiba? Sewaktu kelas 11, di sekolahku ada pengambilan data E-KTP untuk para siswa dan siswi. Dulunya aku kira E-KTP yang akan diproses hanya siswa berdomisili DKI Jakarta, mengingat sekolahku di Jakarta Barat dan aku adalah penduduk Tangerang Selatan. Ternyata, sewaktu memberi dokumen di Kantor Kecamatan, namaku sudah terpampang di papan pengumumannya sebagai orang-orang yang belum mengambil KTP yang sudah tercetak waktu itu. Kaget dong, niatnya mau buat kok malah udah jadi duluan. 🤣

Pencetakan ulang E-KTP keduaku diurus oleh Ibuku, karena saat itu aku sudah harus kembali lagi ke Bandung. Aku hanya perlu menunggu kiriman Pak Pos yang berisi E-KTP yang sudah tercetak kembali.

Untuk pengurusan E-KTP kali ini, aku mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan sendirian. Karena ini pertama kalinya, aku menelusuri beberapa sumber di internet tentang kepengurusan KTP yang hilang. Kebanyakan dari sumber-sumber tersebut menyebutkan Fotokopi KK, Surat Pengantar dari RT/RW, dan Surat Kehilangan dari Kepolisian sebagai dokumen yang harus dipersiapkan terlebih dahulu sebelum ke Kantor Kelurahan; lalu ke Kantor Kecamatan. Hampir semua sumber juga mengatakan bahwa proses pengurusan E-KTP hilang ini memakan waktu yang sangat lama. Bahkan ada yang bilang lebih dari 60 hari. 🤔

Sejujurnya ada salah satu sumber yang mengatakan bahwa surat rekomendasi RT/RW sudah tidak diperlukan untuk pengurusan E-KTP yang hilang. Tapi apa salahnya mempersiapkan segala kasus terburuk, kan?

Aku izin untuk bolos magang hari ini. Pagi hari aku mengambil Surat Pengantar di rumah Pak RT, lalu ke 4 Kantor Polisi untuk meminta Surat Kehilangan (4 kantor aku datangi karena 3 lainnya bermasalah), lalu ke Kantor Kelurahan. Tentunya dengan membawa beberapa Fotokopi KK.

Di Kantor Kelurahan, tidak ada yang dilakukan di sana. Yup, t i d a k  a d a. Seorang bapak-bapak mengarahkan untuk langsung ke Kantor Kecamatan atau daftar di website Disdukcapil Tangerang Selatan. Karena website yang disebutkan tidak bisa dibuka, aku langsung menancapkan gas, pergi ke Kantor Kecamatan.

Di Kantor Kecamatan aku diberi Formulir Permohonan KTP yang nantinya akan ku lengkapi dan ditandatangani oleh petugas di sana. Kemudian. aku diarahkan untuk langsung ke Kantor Disdukcapil sebelum jam 12. Awalnya aku kira karena jam 12 adalah jam istirahat, ternyata alasannya karena pengambilan kartu antrian di Kantor Disdukcapil hanya dilayani sampai jam 12.

img_20180709_122426-1452966411.jpg
Jadwal Pelayanan Disdukcapil Tangerang Selatan

Sampai di Kantor Disdukcapil, aku ada di antrian F082–sementara antrian baru berjalan hingga F035. Kurang lebih 4 jam habis untuk mengantri, karena antrian pencetakan E-KTP yang hilang disatukan dengan antrian pembuatan E-KTP baru. Tapiiiii, yang perlu digarisbawahi, pencetakan kartu E-KTP barunya nggak sampe 1 menit lho guys! Dan ternyata, dokumen yang diperlukan untuk mengurus E-KTP yang hilang hanyalah Fotokopi KK dan Surat Kehilangan dari Kantor Polisi, serta Formulir Permohonan yang didapatkan dari Kantor Kecamatan.

Kalau ditotal tanpa memperhitungkan waktu mengantri, pengurusan E-KTP hilang ini hanya memakan waktu kurang dari 2 jam. Sesuatu yang cukup di luar ekspektasi, karena ternyata sistem administrasi di negara kita sudah tidak seruwet beberapa tahun yang lalu.

Selain E-KTP, masih banyak hal-hal yang bisa diurus di Kantor Disdukcapil. Aku sempat mengabadikan sebuah infografis di sana tentang  dokumen yang perlu disiapkan sebelum mengurus beberapa proses administrasi kependudukan.

img_20180709_123211966496680.jpg
Format SMS Informasi Persyaratan Dokumen

img_20180709_1959592075326310.jpg
SMS yang diterima

Okaiii, sekian post-ku kali ini. Tumben ya aku bikin tulisan yang berfaedah. 🙄

Semoga banyak yang terbantu oleh post ini! Hehe 😜

BOSEH – Bikesharing Bandung

Hai semuanyaa! Di post ini aku bakal curhat sekaligus berbagi informasi yang cukup penting nih… :)))

Kalian yang tinggal di Bandung udah pada tau Boseh belum? Kalau belum, boleh nih dicek dulu websitenya di sini.

Dua minggu lalu aku ke CFD Dago. Aku udah ada rencana mau pake sepeda yang di halte-halte sepede biru di sekitaran ITB. Aku kira bisa bebas pake terus bayarnya kaya pake vending machine kan, ternyata ngga begitu. 😂

Setelah menelurusi beberapa informasi di google, aku baru tau kalau ternyata untuk pake sepeda Boseh harus punya keanggotaannya dulu. Nah perjuangannya pun di mulai di sini….

Dari banyak sumber, katanya keanggotaan Boseh ini bisa didapetin dari booth-booth pendaftaran Boseh yang ada di beberapa tempat. Sayangnya, web-web yang nunjukin informasi itu semuanya konten-konten lama (sekitaran 2017) jadi kemungkinan besar informasinya sudah tidak relevan. Daripada susah-susah cek lokasi booth-nya satu-satu tapi malah gaada, akhirnya aku ke headquarter-nya Boseh di Jalan Pelajar Pejuang, deket Palasari.

Salahnya aku, waktu itu aku ke sana pas pulang kuliah jam 3-an. Udah jauh-jauh ke sana, eh taunya udah tutup. Tapi daripada sia-sia, aku tetep mampir ke sana dan untungnya masih ada mas-mas yang ngejagain. Dan ternyata……….di headquarter-nya itu malah udah ngga bisa buat membershipnya. 😂 Aku dikabarin masnya kalau buat kartunya bisa di Alun-Alun, asal jangan kesorean kaya waktu itu wkwk.

Hari Selasa lalu akhirnya aku ke alun-alun buat bikin kartunya. Lagi-lagi mepet waktu tutup karena ke sananya pas kuliah udah kelar. Dan bener aja, booth-nya udah mau tutup. Untung mbak yang jaga masih mau repot-repot melayani. :”)

Untuk daftar keanggotaan Boseh ini, kartu yang dipakai adalah kartu e-money nya BRI, Brizzi. Waktu mau buat kartunya di booth, aku dikasih tau kalau di situ cuma bisa beli kartu dan aktivasi kartu aja, tanpa isi saldo. Supaya efisien, mbak penjaga booth Boseh bilang ke aku buat beli kartu dan isi saldo langsung ke BRI-nya aja lalu balik lagi ke booth itu buat aktivasi kartu dan daftar keanggotaannya. Kebetulan di depan alun-alun ada Bank BRI, jadi aku sekalian ke sana buat beli kartu Brizzi dan isi saldonya, terus balik lagi ke booth-nya.

Selain kartu Brizzi, hal lain yang diperluin buat daftar keanggotaan Boseh adalah KTP. Jadi jangan lupa bawa KTP juga ya. Untuk pendaftarannya gratis kok, gaada biaya tambahan apapun. Jadi kita cuma keluar biaya buat beli kartu Brizzi dan isi saldo buat pemakaian sepedanya aja.

Pendaftarannya juga ga ribet kok, nanti cuma dipinjem KTPnya sebentar, terus dimintain beberapa data kaya kontak dan domisili, terus pengambilan foto langsung di boothnya. Nanti juga kita diminta buat PIN 4 angka untuk pake kartunya di halte sepedanya.

Oh iya, mbak penjaga booth-nya cerita kalau selain di alun-alun ada juga dua booth pendaftaran lain. Satunya di Loop Station (Jalan Diponegoro), satunya lagi di Taman Cibeunying. Booth pendaftaran selain tiga tempat ini udah ngga ada lagi, jadi biar pasti langsung ke tiga tempat itu aja ya. 👻

Biaya penggunaan sepeda Boseh ini juga murah banget kok, 1000 rupiah saja untuk satu jam pertama lalu setelahnya dikenakan 2000 rupiah per jam-nya. Cocok banget buat yang mau sepedahan antar moda transportasi berbeda atau sekedar iseng-iseng olahraga tapi gapunya sepeda kaya aku. :)))

Setelah selesai daftar dan aktivasi kartu, aku langsung pinjem sepedanya. Karena udah jam 4, nggak lama setelah aku ambil sepedanya ada mobil pick-up yang berhenti di halte tempat aku minjem sepeda dan ternyata semua sepeda di halte itu diangkat ke mobil itu. Karena kepo, aku nanya-nanyain masnya. Ternyata, setelah jam 4 sepeda-sepeda di halte itu bakal dibawa ke gudangnya Boseh untuk di-maintenance. Keren juga ya sistemnya… 🤔

Jam operasi sepeda ini dimulai dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Kalau kalian pinjem sepedanya mepet jam 4 dan belum selesai make sepedanya, ngembaliin sepedanya setelah jam 4 pun ga masalah kok–ga akan dikenakan biaya tambahan. Aku udah ngebuktiin, karena kemarin pun minjem sepedanya agak lama setelah jam 4 dan bisa ngembaliin sepedanya tanpa masalah. 😛

…..ada masalah sih sebenernya waktu ngembaliin. Jadi, waktu masuk ke menu buat ngembaliin sepeda, kartunya bisa terbaca sistem dengan mudah. Tapi, waktu tapping kartu untuk pemotongan saldo, berulang kali sistemnya ga ngebaca kartunya. Setelah sekitar lima kali mengulang proses pengembaliannya, ternyata mesti pinter-pinter mengakali cara tapping kartunya. Semoga ke depannya sistem tapping-nya bisa diperbaiki.. 🙄

Okeei, segitu dulu ceritaku kali ini. Semoga post kali ini berguna yaaa. 😝

This slideshow requires JavaScript.

Mari Makan — Edisi Makan Pagi

Haiii, semuaa!!

Berbekal pengetahuan dan pengalaman selama hampir 3 tahun tinggal di Bandung, aku mau bagi-bagi rekomen tempat makan yang mantap puol di sini. Tapi ya rekomennya bakal banyak yang makanan mahasiswa gitu (alias makanan terjangkau yang mungkin kurang sehat) berhubung budgetku cuma budget mahasiswa HAHA. [btw ngeblog 30 hari di bulan kemarin gagal karena aku skip sehari terus jadi males ngelanjutin wkwk :((] 

Post edisi makan-makan ini bakal aku bagi tiga jadi menu makan pagi, makan siang, makan malam, sama jajan-jajanan. Yang aku tulisin di sini cuma tempat makan favoritku aja, untuk tiap jenis makanan tentu aku udah nyobain banyak tempat tapi aku cuma ceritain yang memorable aja wkwk. Supaya ga bosen baca tulisan doang, aku bakal selipin foto-foto makanan hasil googling ya karena aku gapunya foto-fotonya. 😂

  • BUBUR AYAM: Berhubung aku tinggal di Cisitu Baru, bubur enak yang pertama kali aku coba itu Bubur Serbu Rame. Kaya namanya, bubur ini rame banget didatengin orang di pagi hari dan jam 10-an biasanya udah habis. Buat rasanya sebenernya ga terlalu bikin nagih sih menurutku, tapi ya cukup enak. Bubur ayam lain yang pernah (dan paling sering) ku makan itu yang ada di Tubagus Ismail, Bubur Ayam Pak Apid yang ada di sebelah Indomaret. Pada awalnya aku ga terlalu suka karena buburnya terlalu polos menurutku(?). Makin ke sini, malah selalu jadi pilihan pertama kalau lagi pengen makan bubur WKWK. Bubur Pak Apid ini bukanya ga cuma pagi btw, kalau siang sih tutup tapi di sore dan malam harinya buburnya buka lagi. Bisa jadi salah satu pilihan buat kalian yang ngidam bubur tapi udah kesorean wkwk. Di Serbu Rame bubur ayam+telurnya 11 ribuan, kalau di Pak Apid bubur ayam+telurnya 15 ribuan

    picture-1463375495
    source: https://pergikuliner.com/restaurants/bandung/bubur-ayam-serbu-rame-dago-atas
  • KETUPAT TAHU: Sebenernya hampir semua tempat yang jual ketupat atau kupat tahu rasanya sama aja, ya gitu-gitu doang karena yang ngebedain paling tekstur komponen bahannya sama rasa saosnya. Kalau lagi pengen kupat tahu, aku jarang makan di Simpang Dago walaupun dekat tinggal ngesot dari kosan dan banyak pilihannya. Aku malah lebih sering makan kupat tahu di Tubis, persis di sebelahnya bubur Pak Apid. Kalau aku sih ngerasanya tahu di sana lebih lembut, biasanya juga masih anget karena baru digoreng, dan porsi ketupatnya banyak. Harga ketupat tahu di situ sama kaya harga biasanya kok, 10 ribuan untuk satu porsinya.

    dsc_0731
    source: https://rinaldimunir.wordpress.com/2015/04/20/kupat-tahu-sarapan-pagi-orang-sunda/
  • NASI UDUK: Nasi uduk buat sarapan favoritku ada di Simpang Dago, posisinya di seberang belokan ke Tubis, pokoknya yang bertenda biru dan di sebelahnya ada tempat servis-servis TV gitu. Tempat ini buka dari pagi sampe siang banget, kadang aku lewat sana jam 1 siang pun masih ada. Yang aku suka di sini, nasi uduknya berasa, bihun dan tempenya ga ngebosenin kaya nasi uduk yang buka pagi hari lainnya, dan sambelnya enak ga pedes-pedes banget tapi cukup untuk menambah sensasi. Terus kerupuk di sini lembut banget, bukan lembut sih–apa ya nama teksturnya wkwk, pokoknya ga keras dan begitu masuk mulut gampang hancurnya jadi cocok banget dimakan bareng nasi. Bapaknya juga nyediain gorengan yang seringkali disajikan hangat, kalo udah ga sabar pengen makan tapi bapaknya masih nyiapin nasinya bisa cemilin gorengannya dulu HAHA. Di sini nasi uduk+telur harganya 10 ribuan saja.

    nasi-uduk-mandalakrida
    source: https://www.sobatjogja.com/nasi-uduk-mandalakrida-teman-sarapan-istimewa-sehabis-lari-pagi/
  • NASI KUNING: NASI KUNING SUMUR BANDUNG IS THE BEST! Gaada yang ngalahin enaknya nasi kuning di sini. Aku bisa aja seminggu sarapan ini terus saking sukanya. Nasi kuning ini bisa ditemuin di sebelahnya stasiun radio yang di jalan Sumur Bandung. Gampang lah pokoknya nyarinya, di Gmaps pun ada. Tapi jangan dateng setelah jam 10, biasanya kalaupun masih buka udah pada habis. Selain nasinya enak banget, pilihan lauk di sini banyak banget. Ada daging cincang, perkedel, telur rebus atau telur dadar, dan beberapa lauk lainnya yang gapernah aku lirik karena aku selalu belinya kalau ga pake telur ya perkedel wkwk. Nasi kuning+telur di sini harganya 10 ribu sekarang. Baru aja semester ini naik, kemarin-kemarin masih 9 ribu padahal haha.

    Nasi-Kuning-Sumur-Bandung-via-lapercuy
    source: https://dolandolen.com/mau-sarapan-enak-di-bandung-ada-8-resto-dan-kedai-ini-buat-dolaners/
  • NASI GORENG: Kalau lagi pengen sarapan nasi goreng sebenernya agak susah carinya. Nasi goreng yang ada di pinggir jalan Simpang Dago adalah nasi goreng yang paling gampang ditemui dan untungnya rasanya enak, jadi otomatis banget langsung ke sana kalau lagi pengen nasi goreng. Sesuai nama tempatnya, Nasi Goreng dan Lontong Kari, di sana ada dua menu utama yang dijual yaitu nasi goreng sama lontong kari. Bisa pilih pake ayam ataupun daging sapi. Nasi goreng di sini bukan nasi goreng oseng kaya yang dijual di pinggir jalan, nasi goreng ini rempahnya rada beda. Ya pokoknya enak lah! Lontong karinya juga ga kalah enak kok hehe. Di sini seporsi nasi goreng harganya 14 ribuan.

    151
    source: https://www.bango.co.id/resep/detail/151/nasi-goreng-kari-kambing
  • SOTO: Untuk soto, ada beberapa tipe soto berbeda yang jadi pilihanku kalau mau sarapan. Ada soto ayam yang kuahnya kental di pinggir jalan Cisitu (Soto Ayam Madura–seberang sananya dikit Bubur Serbu Rame) yang harganya hanya 10 ribu untuk soto+nasi. Ada juga soto betawi dengan daging & usus di tempat makan Cisitu Lama atas sampingnya Indomaret (Kedai Bunda–deket Kuro-Kuro Cisitu), di sini tempat makan soto favoritku karena isinya daging dan buanyakkk–kalau di sini soto+nasinya harganya 14 ribu. Aku ingetnya ada lagi satu jenis soto tempat aku makan pagi, tapi kok lupa ya.. 😦 Aku malah jadi inget soto di depan Lanud Sulaiman yang jual pecel juga dan pecelnya uenak bangedd, aku selalu makan itu kalau lagi testflight di sana tapi yakali pas lagi pengen bela-belain ke Kopo cuma mau makan soto HAHA.

    soto-kambing-betawi-yang-nikmat
    source: https://sotodansup.wordpress.com/2015/07/05/cara-membuat-soto-kambing-khas-betawi-yang-enak/
  • PECEL(?): Yak, ini melanjutkan cerita di atas aja. Jadi, di seberang pintu masuk Lanud Sulaiman ada lahan luas yang berisi tempat-tempat makanan. Di sana ada Nasi Pecel Madiun yang jual nasi pecel dan soto. Nasi pecelnya bisa pake ayam, ati ampela, ataupun gepuk. Aku lupa harga makanan di sini berapa, pokoknya biasanya aku pesen nasi pecel gepuk+nasi soto daging+2 es teh manis+beberapa gorengan totalnya 40-50 ribuan. Oh iya, di deket pecel madiun ini juga ada yang jual bakso guedee banget, rasanya biasa aja sih tapi siapa tau kalian kepo dan mau mampir ke sana(?).

    foody-mobile-2-jpg-283-636102493382450098
    source: https://www.foody.id/bandung/nasi-pecel-madiun-margahayu

Yak, sekian dulu cerita soal makanan kali ini. Gara-gara memikirkan makanan di atas serta mencari-cari fotonya, aku jadi pengen makan semuanya huhu. Semoga review alay ini bisa membantu teman-teman yang cari makanan di Bandung yaa. Sampe ketemu di post berikutnya. 😝