Quarter-Life Crisis?

Beberapa dari teman-temanku sebagian besar sudah tau kalau aku nggak ingin mengambil jalur belajar lagi setelah lulus nanti. Aku lelah dengan kehidupan akademikku yang hasilnya tidak begitu memuaskan. Aku ingin cepat-cepat menghasilkan uang untuk menopang hidupku sendiri tanpa membebani orang lain.

Di awal mencicipi kehidupan korporat di tempat KP, aku semangat banget mengemban semua pekerjaan yang diberikan. Mengendarai motor sejauh 40 KM untuk PP dari kantor ke rumah tidak terasa berat, walaupun macetnya Jakarta cukup membuat kesal.

Setelah 2 minggu berlalu, aku ada di satu titik yang mempertanyakan apa tujuanku yang sebenarnya. Menghadapi realita dunia kerja yang ternyata tidak asyik-asyik amat, aku mulai terdemotivasi. Padahal, ini baru 2 minggu. Apa yang terjadi kalau aku bekerja untuk waktu yang lama? Ini bukanlah demotivasi sementara seperti biasanya kalau aku jenuh menghadapi dunia perkuliahan. Aku merasa aku akan terjebak jika aku mengambil jalur bekerja setelah lulus nanti. Entahlah, mungkin memang karena belum menemukan arahnya.

Waktu mencari tempat KP sebelumnya, aku sempat memutuskan akan langsung bekerja  setelah lulus nanti dan menelusuri beberapa jenis pekerjaan yang mau aku lakoni. Kalau nanti dapet jobdesc yang engineering? Tentu mau, aku suka ngoprek dan troubleshooting walau ga jago-jago banget. Kalau nanti dapet jobdesc manajerial? Ok ngga apa-apa, mungkin memang aku tidak se-capable itu untuk masuk dunia engineering; lagipula bekerja dengan orang lain tentu akan menyenangkan bukan?

Tapi, apakah aku akan senyaman itu di tempat kerja seperti saat menjadi mahasiswa?

Setelah melalui banyak renungan, aku menyadari sebenarnya keinginanku untuk cepat-cepat bekerja dilandasi oleh uang. Entahlah, aku merasa punya kewajiban besar untuk cepat-cepat menghasilkan uang sendiri. Walaupun sebagai perempuan yang tanggungan masa depannya tidak terlalu besar (kalian paham kan maksud stigma ini apa), aku ini anak pertama dari 4 bersaudara dan dukungan finansial di keluarga hanya datang dari Ibu. Rasanya tidak mungkin untuk mengabaikan keluargaku begitu saja, apalagi kalau masih menjadi beban setelah lulus nanti. Mungkin ini yang membatasi alam bawah sadarku untuk bermimpi tentang berkuliah lagi.

Selain itu, aku juga seringkali menyalahkan dunia akademik yang membuatku tidak ingin kembali belajar. Aku selalu menghujat hasil belajarku selama ini (baca: IPK), menganggap aku tidak mampu untuk belajar. Padahal, kalau diamati lebih lanjut, nilaiku di jurusan bisa dibilang cukup baik. Aku sadar bahwa aku bisa mencapai nilai yang baik jika aku menyukai subjeknya, sayangnya sains dasar bukanlah temanku.  Nilai kumulatifku tidak begitu memuaskan karena nilai-nilai buruk di mata kuliah sains dasar. Ternyata aku tidak sebodoh itu, seperti apa yang aku klaim pada diriku sendiri selama ini. Aku hanya kurang memaksakan diriku di waktu TPB dulu.

Aku ini tipe orang yang suka mencari banyak informasi di waktu senggang, bahkan sampai keasyikan dan lupa waktu. Di penghujung SMA, aku suka mencari banyak informasi mengenai dunia perkuliahan di website resmi dan blog-blog orang lain. Informasi yang aku baca mulai dari kampus dan kehidupan di dalamnya hingga seperti apa mata kuliah jurusan-jurusan yang aku pilih. Pada waktu itu aku juga mencari banyak informasi tentang beasiswa. Seharusnya di saat-saat ini aku juga melakukan hal-hal itu. I would love to, tapi percayalah aku tidak pernah sekalipun punya satu sesi di mana aku mencari informasi-informasi tentang perkuliahan S2. Iya, karena denial. Alasanku, aku menganggap aku nggak akan langsung S2 atau malah tidak akan S2 sama sekali seumur hidup. Jadi, aku terlalu takut bahkan hanya untuk mencari informasi.

Alhamdulillah aku menyadari semua ini sebelum lulus. Setidaknya, aku masih punya waktu untuk memperbaiki diri dan memutuskan pilihan kembali. Aku nggak bisa terus-terusan jadi Jeje versi sebelumnya yang hanya melakukan semuanya seadanya. Post ini aku buat untuk menjadi sebuah reminder bahwa hidup ini tidak bisa diputar kembali. Apa yang aku lakukan di saat ini akan menentukan seperti apa hidupku dan orang-orang di sekitarku di masa depan nanti.

Yuk berubah…

Advertisements

Blog dan Vlog

Nulis apa ya hari ini…….. Kemarin idenya banyak, sekarang malah ilang semua huhu. Judulnya sih inget tapi jadi hilang arah mau ceritanya gimana. 😐

Kalian sering ga sih blog walking gitu? Kaya liat-liat blog orang, baca-bacain semua artikelnya terus berlanjut ke blog lainnya. Aku seneng ngebacain blognya alumni-alumni ITB, terutama yang HME, mungkin karena bisa relate cerita-ceritanya sama pengalaman sendiri kali ya. Aku juga suka bacain blog orang-orang yang tinggal di luar negeri, bacain pengalamannya tinggal di sana kaya apa. Tapi aku paling seneng sama yang suka cerita kehidupannya di umur 23-30an, aku ngerasa jadi punya bayangan hidup untuk beberapa tahun ke depan dan cerita-cerita mereka sering ngasih aku motivasi tersendiri buat jadi sukses. 😂

Sekarang udah banyak yang beralih media cerita dari tulisan ke video di YouTube. Aku suka sih nontonin channel-nya beberapa influencer kaya Arief Muhammad & Gitasav gitu (yang aku ikutin banyak sih ga cuma mereka). Tapi senyaman-nyamannya nontonin video, aku jauh lebih suka menikmati orang yang berbagi ceritanya lewat tulisan. Selain ga terlalu ngabisin waktu (karena baca tulisan lebih cepet daripada nonton video), lewat tulisan pembaca bisa mengimajinasikan suasananya sendiri which is lebih asik ngga sih? Lewat tulisan juga pembagian informasi bisa lebih jelas daripada penjabaran lewat video. Dan lewat tulisan biasanya karakter seseorang bisa dibaca dari caranya bercerita. Lagipula, untuk bikin vlog yang layak dinikmati usahanya jauh lebih besar daripada bikin blog. Untuk para pemula, hal yang satu ini susah banget diakalinnya apalagi mahasiswa kere tak bermodal kaya aku. 😂

Tapi tetep sih untuk beberapa kasus, bercerita lewat video lebih bagus daripada lewat tulisan. Misalnya, cerita suatu perjalanan wisata yang dibagi lewat video tentu cenderung lebih terasa feels-nya dibanding lewat tulisan yang disertai foto-foto.

Pemikiran-pemikiran di atas ini murni opini pribadiku lho. Mungkin banget temen-temen yang baca pendapatnya beda sama aku.

Kalau menurut kalian mana yang lebih asik dinikmati, blog atau vlog? 🙄

Penuaan

Usia sudah kepala dua, wajah tidak sehalus waktu SMA(?), beban pikiran semakin bertambah. Yaaa, inilah yang namanya penuaan. Mana sekarang beratku juga nambah 10-15 kg, huaaa. :(( ((hala yang itu mah gaada hubungannya))

Sebenernya ga kerasa ya sekarang udah umur segini. Bentar lagi lulus, mesti cari kerja, tanggung jawab bertambah. Tapi aku merasa ‘pendewasaan’-ku belum selesai. Masih merasa kaya anak kecil, wkwkwk…

Di satu sisi pengen cepet-cepet masuk ke dunia orang dewasa dan merasakan bertanggung jawab penuh atas diri sendiri (dan mungkin orang lain). Tapi di sisi lain ingin kembali ke masa-masa sekolah di mana semua serba teratur dan tinggal ngejalanin aja.

Terus sekarang galau gitu kan, abis lulus mau ngapain. Mau kerja apa, kerja di mana, atau lanjut sekolah kah, atau buka usaha kah. Merasa dunia orang dewasa itu seram, tapi gamau stuck di sini terus juga. Aku merasa kurang menjadi mahasiswa yang produktif, terlalu nyaman di zona nyamannya.

Tapii!!! Mungkin di saat-saat inilah justru kondisi daily life ku berada di titik paling menyenangkan. Hubungan sama keluarga baik, bisa berbaur sama temen-temen tanpa drama-dramaan gajelas, asupan makanan sehat dan bervariasi /ha/, dan yang paling utama punya seseorang yang always there no matter what ((someone maybe think this is just typical bullshit coming from everyone with this kind of relationship, but believe me we’ve been through a lot already; you just can’t know. for some people who knows how bad my relationship with my mom, i don’t have those unnecessary conflicts anymore because of him)).

Di saat dewasa nanti tentu aku pengen sukses, pengen punya banyak pengalaman baru, pengen bisa mencapai apa aja yang selama ini ingin dicapai, dan yang lain-lainnya. Tapi yang paling utama, ku pengen jadi orang yang bahagia terus dan juga bisa membahagiakan orang-orang di sekitar. Semoga ku bisa melalui proses pendewasaan ini dengan hasil yang baik.. 🙆

Semangat sekolahnya, kuliahnya, kerjanya, usahanya, atau apapun yang kalian lakukan!! Semoga sama-sama bisa bahagia selalu ya! 😁

Rindu Menulis

Di liburan yang panjang dan cukup membosankan ini, ku udah kebayang beberapa topik untuk dipost di blog. Tapi selalu aja ada halangan buat nge-publish beneran. 😂 Di draft udah ada 4 tulisan dengan topik berbeda, tapi gaada yang dipost coba. 😤

Pokoknya ini mesti dipost walaupun sangat pendek—daripada panjang-panjang kaya tulisan di draft tapi ga dipost HAHA.

Problema Loker Perpustakaan

Siang menuju sore ini di perpustakaan kampus, terdapat suatu kondisi yang belum pernah gw liat sebelumnya. Antrian penitipan barang a.k.a loker telah mengular sampai ke ujung tangga menuju basement. Ketika ditanya, mas-mas penjaganya bilang kalau space loker kosongnya habis.. 😦

Setelah ada di antrian bagian depan, gw sempet ngeliat slot kunci dan kartu yang menggantung. Ada banyak kartu yang dibalik, yang berarti kunci dengan nomor yang ada di kartu tersebut udah ilang. Kondisinya tuh bisa dibilang cukup miris, karena jumlah kunci yang hilang ga sedikit; cukup melebihi 1/4 dari jumlah keseluruhan loker yang ada.

Dengan sistem peminjaman yang sekarang, ga bisa dilacak siapa yang ngilangin kuncinya yang juga berarti sanksi atas menghilangkan kuncipun ga bisa diberikan. Kondisi itupun membuka peluang untuk oknum yang ‘curang’, membuatnya jadi punya loker pribadi di tempat penitipan umum karena punya kunci loker untuk dia seorang diri.

Salah satu solusi yang sempet kepikiran sih, menghilangkan sistem penukaran kunci dengan kartu bernomor sebagai tanda peminjaman, kemudian menggantinya dengan memberikan KTM/KSM yang bersangkutan untuk dicatat NIM-nya. Dengan begitu kan bisa bikin tiap peminjam loker lebih bertanggung jawab karena penghilang kunci jadi bisa terlacak.

Atau mungkin ada yang punya ide lain?