Quarter-Life Crisis?

Beberapa dari teman-temanku sebagian besar sudah tau kalau aku nggak ingin mengambil jalur belajar lagi setelah lulus nanti. Aku lelah dengan kehidupan akademikku yang hasilnya tidak begitu memuaskan. Aku ingin cepat-cepat menghasilkan uang untuk menopang hidupku sendiri tanpa membebani orang lain.

Di awal mencicipi kehidupan korporat di tempat KP, aku semangat banget mengemban semua pekerjaan yang diberikan. Mengendarai motor sejauh 40 KM untuk PP dari kantor ke rumah tidak terasa berat, walaupun macetnya Jakarta cukup membuat kesal.

Setelah 2 minggu berlalu, aku ada di satu titik yang mempertanyakan apa tujuanku yang sebenarnya. Menghadapi realita dunia kerja yang ternyata tidak asyik-asyik amat, aku mulai terdemotivasi. Padahal, ini baru 2 minggu. Apa yang terjadi kalau aku bekerja untuk waktu yang lama? Ini bukanlah demotivasi sementara seperti biasanya kalau aku jenuh menghadapi dunia perkuliahan. Aku merasa aku akan terjebak jika aku mengambil jalur bekerja setelah lulus nanti. Entahlah, mungkin memang karena belum menemukan arahnya.

Waktu mencari tempat KP sebelumnya, aku sempat memutuskan akan langsung bekerja  setelah lulus nanti dan menelusuri beberapa jenis pekerjaan yang mau aku lakoni. Kalau nanti dapet jobdesc yang engineering? Tentu mau, aku suka ngoprek dan troubleshooting walau ga jago-jago banget. Kalau nanti dapet jobdesc manajerial? Ok ngga apa-apa, mungkin memang aku tidak se-capable itu untuk masuk dunia engineering; lagipula bekerja dengan orang lain tentu akan menyenangkan bukan?

Tapi, apakah aku akan senyaman itu di tempat kerja seperti saat menjadi mahasiswa?

Setelah melalui banyak renungan, aku menyadari sebenarnya keinginanku untuk cepat-cepat bekerja dilandasi oleh uang. Entahlah, aku merasa punya kewajiban besar untuk cepat-cepat menghasilkan uang sendiri. Walaupun sebagai perempuan yang tanggungan masa depannya tidak terlalu besar (kalian paham kan maksud stigma ini apa), aku ini anak pertama dari 4 bersaudara dan dukungan finansial di keluarga hanya datang dari Ibu. Rasanya tidak mungkin untuk mengabaikan keluargaku begitu saja, apalagi kalau masih menjadi beban setelah lulus nanti. Mungkin ini yang membatasi alam bawah sadarku untuk bermimpi tentang berkuliah lagi.

Selain itu, aku juga seringkali menyalahkan dunia akademik yang membuatku tidak ingin kembali belajar. Aku selalu menghujat hasil belajarku selama ini (baca: IPK), menganggap aku tidak mampu untuk belajar. Padahal, kalau diamati lebih lanjut, nilaiku di jurusan bisa dibilang cukup baik. Aku sadar bahwa aku bisa mencapai nilai yang baik jika aku menyukai subjeknya, sayangnya sains dasar bukanlah temanku.  Nilai kumulatifku tidak begitu memuaskan karena nilai-nilai buruk di mata kuliah sains dasar. Ternyata aku tidak sebodoh itu, seperti apa yang aku klaim pada diriku sendiri selama ini. Aku hanya kurang memaksakan diriku di waktu TPB dulu.

Aku ini tipe orang yang suka mencari banyak informasi di waktu senggang, bahkan sampai keasyikan dan lupa waktu. Di penghujung SMA, aku suka mencari banyak informasi mengenai dunia perkuliahan di website resmi dan blog-blog orang lain. Informasi yang aku baca mulai dari kampus dan kehidupan di dalamnya hingga seperti apa mata kuliah jurusan-jurusan yang aku pilih. Pada waktu itu aku juga mencari banyak informasi tentang beasiswa. Seharusnya di saat-saat ini aku juga melakukan hal-hal itu. I would love to, tapi percayalah aku tidak pernah sekalipun punya satu sesi di mana aku mencari informasi-informasi tentang perkuliahan S2. Iya, karena denial. Alasanku, aku menganggap aku nggak akan langsung S2 atau malah tidak akan S2 sama sekali seumur hidup. Jadi, aku terlalu takut bahkan hanya untuk mencari informasi.

Alhamdulillah aku menyadari semua ini sebelum lulus. Setidaknya, aku masih punya waktu untuk memperbaiki diri dan memutuskan pilihan kembali. Aku nggak bisa terus-terusan jadi Jeje versi sebelumnya yang hanya melakukan semuanya seadanya. Post ini aku buat untuk menjadi sebuah reminder bahwa hidup ini tidak bisa diputar kembali. Apa yang aku lakukan di saat ini akan menentukan seperti apa hidupku dan orang-orang di sekitarku di masa depan nanti.

Yuk berubah…

Advertisements

Rindu Ask.fm

Kalian yang seumuran sama aku dan aktif di media sosial pasti pernah seenggaknya denger platform ini. Untuk yang tidak pernah aktif di sana, mungkin taunya Ask.fm cuma dipake oleh sekumpulan teman yang saling bertanya tentang kehidupan masing-masing atau buat nanyain gebetan secara anonim.

Buatku, ask.fm cukup memainkan peran penting di masa-masa peralihan SMA ke kuliah. Aku bisa dibilang cukup aktif di sana, tapi bukan buat ngejawab-jawabin pertanyaan. Yang nanya ke aku mah cuma dikit wkwk. :”(

Aku cukup rutin ngecek timeline-ku, yang penuh sama selebask pada jamannya. Banyak banget info-info bermanfaat dan insight-insight baru, kalau following list-mu selebask yang kontennya berfaedah. Bahkan karena terlalu banyak info bermanfaat yang nggak pengen aku lupain, aku sampe nyatetin beberapa jawaban favoritku ke notepad. (barusan aku ngebacain file notepadnya dan itu yang bikin aku nulis tentang ask.fm hari ini wkwk)

Sayangnya kurang lebih mendekati saat-saat masuk jurusan, ask.fm tidak lagi berfaedah. 😦 Selebask favoritku semuanya mulai meninggalkan ask.fm dan beralih ke Instagram; dan pada saat itu aku sama sekali belum menyentuh dunia per-instagram-an. Karena gamon (baca: gagal moveon), sempet ada waktu di mana kerjaanku di waktu senggang cuma ngestalk akun-akun favoritku sampe jauh ke bawah.

Untungnya sekarang Twitter hidup kembali. Thread di Twitter sekarang banyak yang isinya mirip-mirip sama konten ask.fm jaman dulu. Aku seneng banget kalau ada yang share tips-tips kehidupan, apalagi yang deket sama apa yang akan ku lakukan di masa depan wkwk. Tapi tetep, buatku ask.fm itu spesial dan masih tidak bisa tergantikan. Lebay sih, tapi beneran deh nuansanya beda gituuuu huhu.

Btw! Belakangan ini ada isu soal Gitasav dan Helmi kan? Mas Helmi itu juga salah satu dari circle akun-akun yang pernah aku ikutin di Ask.fm. Nah karena kasus viral itu, aku jadi nemu akun IG dan Twitter-nya mas-mba yang aku ikutin di Ask.fm dulu. NOSTALGIA BANGET RASANYAAA! Kaya ketemu temen-temen lama, padahal aku dikenal juga ngga, tapi ya bahagia aja rasanyaaa. 😂

Setelah tau kabar terbaru dari kehidupan mereka, ternyata ada yang sama aja kaya dulu, ada juga yang berubah, ke arah lebih baik. Kalau semisal para mas-mba yang pernah aku ikuti dan kagumi itu ngebaca post ini, pesan dariku: semoga sukses dan sehat selalu yaa! Terima kasih telah memberi banyak pelajaran tentang kehidupan padaku! 🤗

Ohya, buat kalian yang kepo kaya apa sih konten-konten Ask.fm di masa itu, aku lampirin beberapa di bawah ya! Beneran deh, gak akan rugi waktu baca-bacain kontennya. Tapi maaf kalau sedikit membingungkan karena aku cuma nyimpen jawabannya aja, ngga sama pertanyaannya huhu. Aku juga ngga nyantumin siapa yang nulis ini semua, maaf ya mas-mba yang tulisannya dilampirkan tanpa credit; tapi ini semua too precious untuk disimpan sendiri. :”

  • Link: klik di sini (Aku taro di Googledocs ya)
  • Atau kalau mau cek di Ask.fm-nya langsung bisa di sini atau di sini (2 akun yang paling recommended menurutku, tentu masih banyak yang lainnya tapi mereka sudah merangkum kontennya sendiri jadi bacanya enak hehehe)

Mencari KP – By: BME15007

Silakan dibaca, edisi perdana cerita KP dari Jeje hehehe.

Ruang KP BME ITB 2015

Dilema mencari KP ini dimulai di permulaan semester 6. Mau KP di mana? Biomed emang bisa KP di perusahaan besar? Perusahaan mana yang mau menerima aku? Bisakah kalau KP di rumah sakit?

Bermacam pertanyaan di dalam kepala bermunculan, yang semuanya pada akhirnya tertuju pada pertanyaan: “AKU KP DI MANA NANTI HUAA?!?”

Sebagai seseorang yang cupu di dunia per-biomed-an, aku termasuk golongan yang ngga kepengen-kepengen banget KP di perusahaan alat kesehatan. Dulu waktu masih idealis, aku pengen magang di tempat yang ngurusin prostetik (dari sebelum masuk ITB aku udah ngincer beberapa perusahaan).

Di tengah perkuliahan aku kehilangan arah. Aku jadi ngga mau bekerja di bidang kesehatan, hahaha. :”D Padahal teman-teman dan beberapa dosen tau, kalau pas TPB tuh aku ngambis banget mau masuk biomed. Ironi ya haha.

Kalau latar belakangnya kenapa, aku gaakan cerita di sini karena ini bukan tempatnya. :)) Yang jelas karena dilatarbelakangi oleh ketidakinginan KP di perusahaan alat…

View original post 248 more words

BOSEH – Bikesharing Bandung

Hai semuanyaa! Di post ini aku bakal curhat sekaligus berbagi informasi yang cukup penting nih… :)))

Kalian yang tinggal di Bandung udah pada tau Boseh belum? Kalau belum, boleh nih dicek dulu websitenya di sini.

Dua minggu lalu aku ke CFD Dago. Aku udah ada rencana mau pake sepeda yang di halte-halte sepede biru di sekitaran ITB. Aku kira bisa bebas pake terus bayarnya kaya pake vending machine kan, ternyata ngga begitu. 😂

Setelah menelurusi beberapa informasi di google, aku baru tau kalau ternyata untuk pake sepeda Boseh harus punya keanggotaannya dulu. Nah perjuangannya pun di mulai di sini….

Dari banyak sumber, katanya keanggotaan Boseh ini bisa didapetin dari booth-booth pendaftaran Boseh yang ada di beberapa tempat. Sayangnya, web-web yang nunjukin informasi itu semuanya konten-konten lama (sekitaran 2017) jadi kemungkinan besar informasinya sudah tidak relevan. Daripada susah-susah cek lokasi booth-nya satu-satu tapi malah gaada, akhirnya aku ke headquarter-nya Boseh di Jalan Pelajar Pejuang, deket Palasari.

Salahnya aku, waktu itu aku ke sana pas pulang kuliah jam 3-an. Udah jauh-jauh ke sana, eh taunya udah tutup. Tapi daripada sia-sia, aku tetep mampir ke sana dan untungnya masih ada mas-mas yang ngejagain. Dan ternyata……….di headquarter-nya itu malah udah ngga bisa buat membershipnya. 😂 Aku dikabarin masnya kalau buat kartunya bisa di Alun-Alun, asal jangan kesorean kaya waktu itu wkwk.

Hari Selasa lalu akhirnya aku ke alun-alun buat bikin kartunya. Lagi-lagi mepet waktu tutup karena ke sananya pas kuliah udah kelar. Dan bener aja, booth-nya udah mau tutup. Untung mbak yang jaga masih mau repot-repot melayani. :”)

Untuk daftar keanggotaan Boseh ini, kartu yang dipakai adalah kartu e-money nya BRI, Brizzi. Waktu mau buat kartunya di booth, aku dikasih tau kalau di situ cuma bisa beli kartu dan aktivasi kartu aja, tanpa isi saldo. Supaya efisien, mbak penjaga booth Boseh bilang ke aku buat beli kartu dan isi saldo langsung ke BRI-nya aja lalu balik lagi ke booth itu buat aktivasi kartu dan daftar keanggotaannya. Kebetulan di depan alun-alun ada Bank BRI, jadi aku sekalian ke sana buat beli kartu Brizzi dan isi saldonya, terus balik lagi ke booth-nya.

Selain kartu Brizzi, hal lain yang diperluin buat daftar keanggotaan Boseh adalah KTP. Jadi jangan lupa bawa KTP juga ya. Untuk pendaftarannya gratis kok, gaada biaya tambahan apapun. Jadi kita cuma keluar biaya buat beli kartu Brizzi dan isi saldo buat pemakaian sepedanya aja.

Pendaftarannya juga ga ribet kok, nanti cuma dipinjem KTPnya sebentar, terus dimintain beberapa data kaya kontak dan domisili, terus pengambilan foto langsung di boothnya. Nanti juga kita diminta buat PIN 4 angka untuk pake kartunya di halte sepedanya.

Oh iya, mbak penjaga booth-nya cerita kalau selain di alun-alun ada juga dua booth pendaftaran lain. Satunya di Loop Station (Jalan Diponegoro), satunya lagi di Taman Cibeunying. Booth pendaftaran selain tiga tempat ini udah ngga ada lagi, jadi biar pasti langsung ke tiga tempat itu aja ya. 👻

Biaya penggunaan sepeda Boseh ini juga murah banget kok, 1000 rupiah saja untuk satu jam pertama lalu setelahnya dikenakan 2000 rupiah per jam-nya. Cocok banget buat yang mau sepedahan antar moda transportasi berbeda atau sekedar iseng-iseng olahraga tapi gapunya sepeda kaya aku. :)))

Setelah selesai daftar dan aktivasi kartu, aku langsung pinjem sepedanya. Karena udah jam 4, nggak lama setelah aku ambil sepedanya ada mobil pick-up yang berhenti di halte tempat aku minjem sepeda dan ternyata semua sepeda di halte itu diangkat ke mobil itu. Karena kepo, aku nanya-nanyain masnya. Ternyata, setelah jam 4 sepeda-sepeda di halte itu bakal dibawa ke gudangnya Boseh untuk di-maintenance. Keren juga ya sistemnya… 🤔

Jam operasi sepeda ini dimulai dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Kalau kalian pinjem sepedanya mepet jam 4 dan belum selesai make sepedanya, ngembaliin sepedanya setelah jam 4 pun ga masalah kok–ga akan dikenakan biaya tambahan. Aku udah ngebuktiin, karena kemarin pun minjem sepedanya agak lama setelah jam 4 dan bisa ngembaliin sepedanya tanpa masalah. 😛

…..ada masalah sih sebenernya waktu ngembaliin. Jadi, waktu masuk ke menu buat ngembaliin sepeda, kartunya bisa terbaca sistem dengan mudah. Tapi, waktu tapping kartu untuk pemotongan saldo, berulang kali sistemnya ga ngebaca kartunya. Setelah sekitar lima kali mengulang proses pengembaliannya, ternyata mesti pinter-pinter mengakali cara tapping kartunya. Semoga ke depannya sistem tapping-nya bisa diperbaiki.. 🙄

Okeei, segitu dulu ceritaku kali ini. Semoga post kali ini berguna yaaa. 😝

This slideshow requires JavaScript.

20 Reasons Why I Love Him

Sebetulnya malam ini aku kepengen lanjutin postingan soal makanan yang kemarin-kemarin, tapi somehow pikiranku nyangkut karena lagi ga mau mikirin makanan HAHAHA. 😦

Terus, tiba-tiba ingin ngepost sesuatu yang menye-menye. Lagi agak pas juga kan nih timing-nya, pasca hari kasih sayang gitu HEHEHE. Jadi aku bakal mendedikasikan post ini buat mas q yang senantiasa menemani q ke mana-mana 2 tahun belakangan ini.

Aku sering banget diprotes dia karena jarang nunjukin affection-ku ke dia. Katanya aku suka asik sendiri, sering ngacangin chatnya dengan ngilang tiba-tiba, jarang banget nunjukin sisi menye-menye ku, dan sebagainya–bagian menyedihkannya adalah semua yang diprotes itu bener HAHAHA. 😦

Aku sama Bagas juga sering ngomongin apa yang ngga kita suka dari satu sama lain, tapi jarang banget–atau malah ga pernah–ngomongin apa yang disuka dari satu sama lain. That’s why i decided to write about itHere it is, hope this won’t be too embarassing lol.

  1. Orangnya family-oriented banget! Sebelum aku jadian sama dia, aku cenderung biasa aja sama keluargaku–bahkan lebih ke arah bete kalau di rumah. Pas udah jadian sama dia, aku ngeliat perhatiannya ke keluarganya yang wow banget. Aku yang dulu suka males-malesan kalau ngekontak keluarga di rumah sewaktu di Bandung, malah jadi sering ikutan homesick–ketularan dia yang tipe orangnya betah banget pulang ke rumahnya. Bahkan adekku udah memberikan testimoni, katanya belakangan ini aku kalau pulang ke rumah selalu bahagia, padahal biasanya bete-bete terus sensi gajelas gitu. 😦
  2. Penuh dengan rencana–entah itu masih abstrak atau udah konkrit. Sebetulnya aku bingung sisi ini menggambarkannya gimana. Tapi sering banget misalnya ada beberapa topik yang harus dipikirkan, aku selalu mikir “ah yaudahlah nanti juga gini gini”, meanwhile dianya “ih ga bisa kaya gitu, harus dipikirin juga ini ini ininya”, which is sangat benar mengingat ketika dia udah bilang gitu aku selalu merespon “oh iya ya……”.
  3. Galak. Kok aku seneng?! Bukan maso lho ya. Sisi galaknya ini tetep aku senengin, walaupun aku benci banget liat yang namanya orang marah. Galaknya dia bikin aku jadi nurut. Yaaah, walaupun pake drama-drama dulu; akunya memberontak sedikit karena nggak setuju, tapi karena dia alasannya selalu benar aku jadi salah kalau nggak nurut wkwkwk. Ini efeknya ga muncul begitu aja, dua tahun belakangan ini banyak sifatku yang berubah dan kalau ditilik lebih lanjut yaa berubahnya gara-gara dia. Yang keliatan banget tuh level berisikku bisa berubah jauh pas lagi bareng dia sama pas lagi gak bareng dia, karena aku sering banget diomelin kalau berisiknya atau hyper-nya kelewatan, HAHAHA. :”
  4. Selalu minta maaf duluan kalau marahan. Aku kan orangnya jaim-an gitu dan suka mendem ya orangnya, kalau lagi marahan tuh bisa jadi batu atau patung di periode yang cukup lama. Kalau ga diajak ngomong duluan, sampe aku ga bete lagi aku ga akan ngomong duluan–dan beteku itu lama banget ilangnya, ditambah kalau udah ga bete akunya suka gengsi ngajak ngomong duluan. Mana akunya juga tanpa sadar suka playing victim…… 😦
  5. Berhubungan sama alasan sebelumnya juga, dia selalu maksa aku ngungkapin apa yang aku rasain sehabis marahan atau kalo ada pikiran yang membebani sampe aku bengong sendiri. Ngungkapin apa yang aku pikirin atau aku rasain di bawah sana(?)itu PR banget buat aku. Dari dulu gapernah ada yang maksa aku buat ngomongin itu, kalau aku bilang gamau ngomong ya udah ga dipaksa. Tapi kalau Bagas, dia selalu maksa aku buat ngomong. Katanya itu budaya di keluarganya juga, kalau ada apa-apa harus selalu diomongin. Awal-awal sih ga nyaman banget, ga sukaaa pokoknya. Tapi kembali lagi, efeknya baru kerasa sekarang. Bebanku jadi ga sebanyak dulu, di mana kadang hal-hal yang penting malah ditutup-tutupi buat sekadar menjaga perasaan tapi malah membawa efek buruk hahaha. 😦
  6. Makannya banyak dan perbendaharaan makanannya luas HAHA. Ini poin plus banget sih, aku yang makannya dari dulu udah banyak jadi cuocok banget makan bareng dia HAHA. Terus makananku di Bandung jadi beragam banget gara-gara dia. Aku yang dulu anti makan keju, sambel, dan beberapa makanan lainnya malah jadi jatuh cinta sama makanan-makanan itu. -_- ((tapi ini poin minus juga, AKU JADI GENDATZ!! huh.))
  7. Kalau aku ajak jalan-jalan random tidak bertujuan, ngga pernah nolak kecuali kalau ada hal yang lebih penting. Aku sering banget ngajak jalan cuma buat nyari angin(?). Pernah aku baru ada kelas jam 11 siang, jam 8 paginya abis dia ngurus vaksin pas mau umroh, aku ajakin jalan-jalan sampe lewat Ciater, tapi ya udah jalan doang ke sana terus balik ke Bandung lagi dan langsung kuliah HAHAHA. Emang ya aku random banget anaknya. 😦
  8. Selalu nawarin jajanan kalau lagi ke mana aja. Kalau lagi jalan-jalan ke mall atau lewat SD sekalipun selalu ditawarin “tuh ada itu tuh, mau gaa?”. Yaaa kalo ini sih karena adaptasi, dulu akunya sering ngode-ngode gitu sih sampe anak-anak Aksan ngerti kalau lewat mas-mas bakso atau siomay selalu impersonate aku yang ngerengek-rengek minta makan itu WKWK. Memalukan. 😐
  9. Enggak gengsian kalo lagi akhir bulan(?). Kalau misal ekonomi sudah menipis, nggak sungkan ngelarang makan yang gaje-gaje HAHA. Aku juga kadang suka susah ngendaliin kepengenan makan ini makan itu, nah kalau udah kelewatan pasti ditegur. “Katanya mau nabuuungg…..”
  10. Enggak minta privasi-privasian kaya cowo-cowo jaman sekarang pada umumnya. Aku dikasih tau berbagai macam password-nya, padahal aku ga minta?! Bahkan sampe pin ATMnya–kalau ini buat dimintain tolong ambilin duit kalau lagi di jalan sih, jadi dia gausah turun dari motor WKWK. Sisi ini juga yang bikin aku sadar kalau gaada sesuatu yang ditutup-tutupi, kenapa harus takut diliat atau dicek sosmed-sosmednya? Sejujurnya dulu aku gasuka adanya privasi satu sama lain yang terlalu terumbar karena takut tiba-tiba ada chat aneh dari orang-orang di masa lalu, tapi karena sudah tersadari jadi sekarang ikutan bodo amat wkwk. DAN INI SUDAH TERBUKTI EFEKTIF UNTUK MENUMPAS ORANG-ORANG PHO DI LUAR SANA! HAHAHAHAHA. Next point!
  11. DIA TAHAN SAMA KEPOSESIFAN KU YANG LEVELNYA 999999999. Aku tuh suka bete sendiri kalau mantannya atau mantan gebetannya atau cewe random yang lagi deketin dia ((IYA ADA YANG DEKETIN LHO, HUH!!!)) ngechat dia atau sekadar muncul di feed Instagramnya. Saking childish-nya aku, aku pernah unfollow mantan gebetannya ((TAPI DIA FOLLOW LAGI DAN MALAH DAPET FOLLOWBACK, PADAHAL SEBELUMNYA GA DIFOLLBACK WKWK)). Pernah juga berantem karena aku kelewat posesif gara-gara bete sama yang ngedeketin dia. GA JELAS BANGET LAGIAN YANG NGEDEKETIN, MODUS BANGET! Mana dedek-dedek SMA pula, huh. Terus pas itu aku tanya kan, apa mending aku ga seposesif itu lagi, eh dijawab gapapa dong, terus dia mengakui dia yang salah. Aku langsung hepi-hepi gimana gitu coba, abisan biasanya aku terus yang salah. Hahaha. :”(
  12. Kebalikannya dari aku, dia sama sekali tidak posesif! Kadang bingung juga sih, dia kok kaya gaada cemburu-cemburunya gitu. MALAH CEMBURUNYA SAMA COWO-COWO FAMOUS YANG AKU SENENGIN COBA?! Macem Chris Evans gitu hoooiiiii! Ngakak banget ya…. :”””
  13. Enggak suka rahasia-rahasiaan. Kaya yang tadi aku bilang, karena dia terbiasa ada apa-apa diomongin, sama akupun kaya gitu. Yaaaa, paling cuma beberapa yang dia ga bilang ke aku. Kaya misalnya si @abcdefghi yang sering nongol di Instagram itu ternyata demenannya waktu SMP, terus si @qwertyuiop demenannya waktu SMA, begitu juga si @asdfghjk. Cerita sih, tapi lama banget ceritanya–walaupun pada akhirnya pasti cerita. Bilangnya sih lupa. Huh. WKWK. Hm.
  14. Anaknya gajelas. WKWKW. Kalau kenal Bagas, pasti tidak menyangka dia suka nyanyi-nyanyi gajelas, ngomong pake logat-logat daerah aneh ataupun negara aneh macem logat India misalnya; terus suka pasang ekspresi aneh, suka sok keren, suka ngelucu random gajelas, dan selera humornya juga receh ((walau belum sehina aku)). Ketularan aku kali ya. Kalau dari awal TPB dia bisa selepas itu sama aku, kayanya bisa jadian lebih cepet deh HAHAHA. Dulu ku kira anaknya bukan tipeku banget lho, secara dulu tuh anaknya jaim yang beneran menjaga image banget sampe kalo ketawa cuma “haha”, kalau sekarang bisa “HUAHAHAHAH WOKWKAOKWAKOAWK”. Lebay sih. Tapi emang ekspresi ketawanya dia tuh sekarang priceless banget… 😦
  15. Dia selalu ngerespon ocehanku yang tiada henti. Ya ada sih capeknya. Tapi gapernah kaya Gino ataupun Hilmi a.k.a Kimik yang responnya nyebelin kalo aku ngomong ABCDE terus dibales: “lalu?”, “terus kenapa?”, YA YANG KAYA GITU-GITU DEH HAHAHA. Bahkan dia kadang bete kalo aku diem doang ga ngomong apa-apa wkwk. Di mana lagi coba aku bisa dapet yang kaya gini… :”(
  16. Pinter banget orangnya zzzzz. Aku bingung dia bisa sepinter itu dari mana. Yang mengherankan, kalau diliat dari akademis tuh dia biasa aja, tapi pengetahuannya bener-bener luas buangeettttt.. Yang cumlaude-pun seringan gak sebanyak dia pengetahuannya. Anak-anak PKM, orang-orang yang ngerjain TA, dan semua temen-temennya kalau ada sesuatu yang ga ngerti atau proyeknya butuh bantuan pasti tanyanya ke dia. Heran banget aku. Ngoding bisa, electrical-thingy-nya jago banget, diajak ngomong topik apa aja nyambung–malah seringan dia yang ngasih tau topik yang lebih luas, pokoknya pinter banget hhhh. Di kehidupan sehari-hari pun dia bisa apa aja, ada sesuatu yang rusak selalu bisa diakalin. Kulkas aja bikin sendiri. Kzl. :’)
  17. Seneng liat bayi dan anak kecil jugaa! Senengnya tuh bukan seneng biasa aja, dia se-hype aku juga kalau liat bayi. Jadi bisa fanboying fangirling bareng gitu nontonin Instastory atau Youtubenya anak-anak kecil WKWK. Aku pernah bilang kan dulu aku bercita-cita pengen punya daycare gitu. Terus dianggap serius sama dia coba, pas lagi ngomongin plan hidup(?), daycare pengenan aku sering dibahas-bahas juga… Haduuu. 😦
  18. Sering membawaku ke jalan yang benar(?). Ku akui sisi keagamaan dia lebih tinggi daripada aku. Yaaa…yang ginian mah gausah diceritain lah ya, nanti riya jatohnya wkwk.
  19. TULISAN TANGANNYA BAGUS BANGETTT! Ini mah ga bikin aku makin sayang atau apa sih wkwkwk, malah kadang bete sendiri. Masa aku yang cewe tapi dia yang tulisannya lebih rapi. Tapi seneng aja punya partner tulisannya bagus, jadi bisa dimintain tolong kalau butuh tulisan rapi(?). :)))
  20. Yang ke-20 apa yaa….masih banyak banget ih sebenernya, tapi aku malah bingung jadi nulis yang mana. Kalau ga dibatesin nanti post ini ga selesai-selesai HAHA. Sisi ga pekanya aja kali ya……. Kadang lucu kalau diperhatiin, dulu cowo-cowo yang deketin aku tuh tipe-tipe cowo yang peka semua–bahkan ada yang pekanya berlebih wkwk. Nah kalau Bagas, dia malah setidakpeka itu… Gak pekanya bukan soal makanan atau kepengenan aku lho, kalau soal itu dia malah peka bangeett HAHAHA. Dia nggak pekanya di beberapa hal, kaya misalnya dia nanyain aku lagi begini atau lagi begitu ngga, kalau aku sok sok bohong bilang ngga (padahal iya), dia gak sadar! Padahal aku sudah se-obvious itu sok boongnya, HAHA. Bahkan pas aku cerita soal ketidakpekaannya, dia gak sadar kapan dia gak peka WKWK. Gemes deh. 😂

Sudah ya segitu aja WKWK. Mungkin beberapa waktu ke depan aku bakal banyakin post ngomongin dia juga. Beberapa kali dia sedih gitu bilang ke aku dia jarang ku ceritain di blog ini… 😂 Makanya sering-sering ajak main biar sering diceritain wkwk… 🙄

Maaf ya para pembaca terpaksa membaca post yang sungguh random ini wkwk. Sampai ketemu di post lainnya!

This slideshow requires JavaScript.